Berjalan-jalan di Lingsar

Berjalan-jalan di Lingsar
Penulis : Yunus T yanseda

Subuh yang bisu,saya di bangunkan oleh adzan yang berkumandang,
HHmm,walau masih ngantuk,tapi saya ingat ada tugas yang harus saya buat untuk memenuhi UAS Mata kuliah Penulisan Kreatif Sastra.
Pukul 06:00 langit masih seperti merindukan malam,kabut masih menertawakan kenyataan.
Saya bergegas mandi ,dan sekitar pukul 07:00 Dengan motor tua saya,saya tancap gas dengan percaya diri saya,seolah-olah saya sedang di nanti kekasih untuk menjemputnya. 
Disepanjang jalan,saya melihat banyak pedagang-pedagang kopi,cilok dan buah-buahan mereka menikmati sekali apa yang mereka kerjakan,seperti para bule-bule yang berjemur panas di pantai kute mandalika.
Dengan memakan waktu sekitar satu jam,akhirnya saya sampai juga di tempat yang saya tuju,desa Ranget nama tempatnya.
Tempatnya indah seperti suasana muncak di bukit savana,orangnya juga ramah-ramah seperti pelayan di tempat masage,setiap orang yang berkunjung kesana pasti pulang dengan kesan yang menakjubkan.
Budayanya juga masih cukup kental,dan salah satunya itu yang menjadi tugas saya untuk di teliti “Kemaliq namanya”.
Setelah satu jam-an disana menikmati pemandandangan,suasana disana dan juga berbincang-bincang dengan Narasumber kemaliq disana.
Saya menyadari bahwa ternyara dunia itu indah Bukan hanya di satu tempat saja,dan juga dunia itu penuh dengan misteri.
Menurut kepercayaan orang sekitar,orang sasak-sasak pada awalnya memang beragama Islam,itu di tandai dengan prasasti-prasasti atau peninggalan-peninggalan para leluhur orang sasak.


 

Komentar